Klo besuk istriku aku poligami dengan banyak vespa, cemburukah ?Tadi pagi menjelang siang, sekitar jam sebelasan sepulang nganterin *Pito* jaga Gorilla Langka di FKY dapet sms dari *Mas Kere Kemplu* bunyinya kek gini :
"Bc kompas hr ini hal 33, jangan yg online yaa ... rasanya beda"
Aku penasaran,
jane isine opo too ?
Aku metu nang kios ngarep golek Kompas Cetak.
Tuku regone rongewu petangatus. Bareng dibuka ternyata
isine :
- Berskuter, Kami Bersaudara
- Sayang Anak dan Istri, Vespa Juga
- KILAS HOBI
Lumayan bisa tuk nambah pengetahuan bagi
Semok Biruku. Waktu sercing
neng Kompas
mung nemu artikelle tok, kok ra ono gambare seng keren iku .... :( mungkin ada pembaca yang bisa menemukan di link mana Kompas menaruh gambar-gambar Vespa tersebut ....?
BERSKUTER, KAMI BERSAUDARAHobi dan Komunitas
Oleh: Frans Sartono
Jika sempat berkeliling Jakarta pada akhir pekan, Anda mungkin akan berpapasan dengan konvoi pengendara skuter. Mereka boleh jadi adalah para anggota klub penggemar skuter yang sedang menuju tempat "mangkal" masing-masing.
Tengoklah kawasan sekitar Monas. Di sana berkumpul keluarga besar Vespa Monas Club. Lihat juga di bilangan Jalan Mahakam, Jakarta Selatan, tempat anggota Jakarta Vespa Club berkumpul.
Daftar tempat mangkal menjadi panjang karena di wilayah Jabotabek ada sekitar 80 klub penggemar skuter dengan jumlah anggota lebih dari 4.000 orang. Sebagian dari klub itu menginduk pada Ikatan Vespa Indonesia (IVI).
Sekadar menambahkan, tengok juga di depan Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Di sana bergerombol kelompok Independent Scooter Taman Ismail Marzuki (ISTIM). Di taman lain, kali ini di sekitar Taman Makam Pahlawan Kalibata, berkumpul Brandal Scooter. Ada pula penggemar skuter yang kebetulan bernaung pada perusahaan sama seperti Vespa Owners Group (VOG) yang suka mangkal di depan kantor mereka di Palmerah Selatan.
Jangan lupa pula mampir ke kawasan di depan Masjid Raya, Tangerang, Banten. Di sanalah anggota Budavest berdiri. Budavest adalah singkatan dari Budak Vespa Tangerang yang kini beranggotakan 175 orang. Asal tahu saja, budak di sini diartikan sebagai anak-anak.
Anggota klub sangat variatif, mulai dari dokter hewan, marinir, mahasiswa, guru, karyawan swasta, pegawai negeri, ustadz, sampai polisi, bahkan ada pula yang masih menunggu pekerjaan mapan. Dalam kumpul anggota, mereka membicarakan segala hal, tetapi kebanyakan berkisar soal Vespa. Dari ajang itulah mereka bertukar info soal suku cadang yang dibutuhkan.
”Ada juga anggota yang dapat pekerjaan dari teman sesama anggota,” papar Herman (30), anggota ISTIM yang membuka bengkel di bilangan Jalan Otista III, Jakarta Timur.
Tak hanya nongkrong dan touring, klub juga melakukan bakti sosial. VOG yang beranggota 120 orang itu, misalnya, akhir Juli mendatang akan mengadakan khitanan massal di Subang, Jawa Barat, sekalian tur.
Klub-klub itu terbentuk dari rasa senasib sepenanggungan sebagai pengguna Vespa. JVC, misalnya, terbentuk dari pengguna yang sering menserviskan Vespa di sebuah bengkel di bilangan Jalan Wijaya, Jakarta Selatan. Mereka kemudian menggagas untuk membuat wadah kegiatan bagi pengendara Vespa. Pada Juni 1985 terbentuklah kemudian Jakarta Vespa Club (JVC).
”Tur pertama kami ke Cibodas diikuti 200 peserta. Setelah pulang tur, beberapa peserta mendirikan klub lain. Sejak itu klub penggemar Vespa bertambah,” kata Roni Rasjidi (48), salah seorang tokoh JVC.
Mereka kebanyakan mengaku jatuh cinta dengan skuter bermerek Vespa karena desain bodi yang dianggap unik, mesin yang praktis, serta ban serep yang mudah dipasang jika ban kempes.
”Buat cewek, Vespa itu asyik. Bodinya seksi” kata Yeti Widianti (27), anggota Brandal Scooter yang mempunyai Vespa tipe Gran Sport (GS) keluaran tahun 1965.
Penggemar Vespa yang tergabung dalam klub-klub itu terkategorikan dalam fokus-fokus berbeda. JVC, misalnya, cenderung pada pemeliharaan Vespa klasik. Klub Sitoracing memfokuskan pada sport termasuk balap I.
Bersaudara
Apa pun fokus kegiatan klub tersebut, mereka punya rasa persaudaraan sesama penggemar. Pada akhir pekan mereka kadang saling berkunjung ke tempat mangkal klub. Ada peraturan tak tertulis yang mengondisikan sesama pencinta untuk saling melambaikan tangan jika berpapasan di jalan meski mereka tidak saling mengenal.
”Kami enggak takut mogok di jalan. Kalau ketemu sesama anggota pasti akan ditolong meski kami enggak saling kenal. Kalau perlu ditarik ke bengkel terdekat,” kata Yudo (27), anggota ISTIM yang menggunakan Vespa tipe Super keluaran 1974 warisan sang eyang.
Yudo menyebut solidaritas antarpencinta skuter itu sebagai scooter brotherhood, persaudaraan antarpengguna. Persaudaraan itu berlaku bagi penggemar skuter di mana pun.
Dengar pengalaman Eko Sulistyanto, Sekretaris Budavest, ketika pada tahun 2000 melakukan tur Jakarta-Malang menuju Bromo. Menjelang malam, Eko dan lima anggota rombongan tiba di Solo, Jawa Tengah.
”Kami disamperin sesama anggota klub. Padahal, kami belum kenal dan belum pernah kontak. Kami diminta menginap di rumah anggota Bengawan Solo Club,” papar Eko tentang sambutan penggemar Vespa di Solo.
”Kalau kami nongkrong, itu sudah seperti saudara. Kami enggak pandang suku atau agama, semua boleh bergabung. Kami bersaudara tanpa gontok-gontokan,” kata Roni.
”Kami bersemboyan, berskuter kami bersaudara,” kata Yudo seperti mewakili semangat berkerabat penggemar skuter.
SAYANG ISTRI, SAYANG ANAK, SAYANG VESPA JUGA .... Kisah Sang Kolektor
Selain istri dan anak-anak, saya paling sayang sama skuter,” kata Tamrin (57), bapak lima anak yang mengoleksi lebih dari 20 skuter merek Vespa.
Vespa itu ditempatkan di garasi khusus di rumahnya di bilangan Ciracas, Jakarta Timur. Setiap skuter diselimuti kain berwarna cerah. Tersebutlah antara lain Vespa GS (Gran Sport) produksi tahun 1962. Skuter ini terkesan kukuh sentosa karena bodi dicetak tunggal tanpa sambungan (one-piece metal pressing.)
Ada juga Vespa Douglas keluaran tahun 1958. Ini adalah skuter yang dibuat oleh perusahaan Douglas, Inggris, dengan lisensi dari Vespa. Tertua dalam koleksi Tamrin adalah Vespa bikinan tahun 1951. Setang Vespa ini tak beda dengan setang sepeda. Semuanya dalam keadaan kinclong seperti baru keluar dari pabrik.
Vespa itu datang kepada Tamrin dalam keadaan tidak mulus. Dia pernah mendapat Vespa keluaran tahun 1965 dalam kondisi bulukan. Ia trenyuh. Lalu dirawatlah Vespa yang bodi dan mesinnya masih asli. Berbulan-bulan ia memburu aksesori orisinal sesuai dengan tahun kelahiran Vespa tersebut. ”Saya jarang main imitasi. Seluruhnya saya usahakan orisinal,” katanya.
Tamrin memburu Vespa dari berbagai kota di Jawa, seperti Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Semarang, dan Solo. Perburuan sampai juga ke Singkawang, Kalimantan Timur, yang tak lain adalah kampung halaman. Di kota itulah Tamrin jatuh cinta dengan Vespa.
Di Singkawang, pada era 1960-an, kenang Tamrin, pemilik Vespa masih bisa dihitung dengan jari. Pemiliknya kebanyakan pejabat setingkat ketua pengadilan negeri.
”Waktu kecil, saya jarang lihat motor. Waktu pertama kali lihat Vespa saya terkesan sekali dengan bentuknya yang rasanya aneh. Lekuk-lekuknya, bodinya yang bulat itu ada seninya,” kenang Tamrin, kelahiran Singkawang tahun 1948.
Pada tahun 1967 ketika dia sudah bekerja dan mampu membeli kendaraan, dibelilah Vespa keluaran tahun 1965 berwarna biru malam. ”Itu pertama kalinya saya naik motor.”
Tahun 1978 ia hijrah ke Jakarta dan skuter itu ia jual. Belakangan pada tahun 1998—ketika dia sudah jadi pencinta Vespa—diburulah kembali ”kekasih” lamanya itu. ”Saya cari lagi dan ketemu. Vespa itu sudah jatuh ke tangan ketiga.”
Hobi merawat Vespa menurut Tamrin, memerlukan usaha yang sabar, tekun, dan ulet. Skuter bulukan dengan mesin mati, lalu berubah menjadi Vespa mulus, jelas bukan upaya sulap.
Banyak orang yang kemudian melirik hasil ketekunan Tamrin. Mereka membeli, termasuk Mandra, pemain sinetron itu. Harganya memang bisa lebih mahal daripada harga motor keluaran terbaru. Namun, bagi Tamrin, ini bukan urusan angka nominal. ”Ini soal kepuasan batin, susah diungkapkan dan tak bisa diukur dengan uang. Namanya juga kesenangan,” katanya. (XAR)
KILAS HOBI"Sembra Una Vespa"
Syahdan, Rinaldo Piaggio mendirikan pabrik Piaggio pada tahun 1884 di Sestri Ponente, Genoa, Italia. Awalnya Piaggio memproduksi perlengkapan kapal, kemudian kereta. Tahun 1915 Piaggio mulai memproduksi pesawat terbang. Sepeninggal Rinaldo pada tahun 1938, Enrico Piaggio, anaknya, melanjutkan usaha.
Saat Perang Dunia II, Italia mengalami krisis transportasi publik. Bahan bakar terbatas dan harga mobil mahal. Piaggio lalu merancang moda angkutan yang murah, irit bahan bakar, praktis, lincah, serta dapat digunakan lelaki dan perempuan.
Tahun 1946 mereka memperkenalkan skuter. Perancang skuter memperkenalkan konsep desain kepada Enrico Piaggio. Dia berkomentar spontan. ”Sembra una vespa —kelihatannya kayak tawon!” Vespa dalam bahasa Italia berarti tawon. Sejak itu skuter bikinan Piaggio itu disebut Vespa. (XAR)
Hikayat Skuter
Scooter berasal dari scoot yang artinya berlari kencang. Etimologi kata scoot berasal dari bahasa Skandinavia skjOta yang artinya menembak. Scooter, oleh kamus Webster dijelaskan sebagai kendaraan roda untuk anak-anak yang di sini dikenal sebagai otopet.
Terdapat jenis scooter dorong (push scooter) alias otopet dan motor scooter. Skuter adalah jenis kendaraan bermotor roda dua di mana pengendara duduk tanpa harus mengangkangi mesin.
Vespa diproduksi pada tahun 1946. Pada tahun 1947 perusahaan Inocentti, Italia, memproduksi skuter Lambretta. Skuter Lambretta sempat populer di Indonesia pada pertengahan era 1960-an. Lambretta tak berumur lama karena Inocentti bangkrut tahun 1970. Pada era 1980-an, Yamaha dan Honda mulai memproduksi jenis skuter. (XAR)
Waktu sercing di Kompas juga sempet nemu brita ini
Slank, Konvoi Scooter untuk Perdamaian
Gambarnya aku pake untuk hiasan judul di atas
Gak ada kata ’damai’ sebelum kita melakukan ’gerakan’ menuju... jalan damai," itu bunyi pesan perdamaian yang digelindingkan oleh grup Slank dalam rangka tur Road to Peace mereka bersama grup Naif yang digelar oleh A Mild Production pada Januari hingga Maret lalu di 24 kota Indonesia. Kalimat tersebut dipajang pula oleh Slank pada sampul album live baru mereka yang juga berjudul Road to Peace.
Untuk kesekian kalinya grup dalam negeri berakar rock n’ roll itu mengumandangkan pesan perdamaian. Dalam rangka peluncuran album itu, serangkaian acara berbau properdamaian diadakan oleh Slank dan A Mild Production pada Kamis (13/5), sejak pukul 11.00 hingga pukul 14.00 WIB, di Jakarta. Sebelum jumpa pers dan konser kecil di Museum Nasional (Jakpus), digelar dulu konvoi scooter serta penandatanganan plakat oleh sejumlah tokoh dan pelepasan sejumlah burung merpati putih tanda perdamaian.
"Untuk peluncuran album, kami selalu ingin sesuatu yang berbeda, enggak cuma jumpa pers di kafe. Makanya, kami bersama A Mild Production (yang bekerja sama dengan Slank merilis album Road to Peace) mengonsep acara seperti ini," jelas Kaka, vokalis Slank, kepada para wartawan.
"Sesuai judul Road to Peace, kami ingin ada sesuatu yang berhubungan dengan jalanan dan perjalanan. Makanya, kami bikin konvoi kendaraan bermotor," lanjut Kaka. Mereka memilih scooter karena unik dan klasik serta bercitra kelas menengah-bawah, dari mana kebanyakan penggemar Slank alias Slanker berasal.
Konvoi scooter dari Senayan (Jakpus) ke Museum Nasional, yang dimulai pada pukul 11.00 WIB dan memakan waktu kira-kira setengah jam, diikuti oleh 36 sepeda motor berjulukan Si Semok itu. Empat dari lima personel Slank, yaitu Kaka, Abdee (gitar), Ridho (gitar), dan Ivanka (bas), ikut. Satu lagi, Bimbim (drum), tidak bisa hadir. "Lagi demam, kecapean," terang manajer Slank, Iffet Sidharta, yang akrab dipanggil Bunda, kepada KCM.
Abdee, Ridho, dan Ivanka mengendarai sendiri sepeda-sepeda motor pinjaman dari peserta-peserta lain, sedangkan Kaka memilih membonceng peserta yang lain lagi. Mereka diiringi oleh para anggota tujuh klub pecinta scooter se-Jakarta dan sekitarnya, yaitu Budavest (Budak Vespa Tangerang), Vespa Indonesia Online, Scooter Indonesia, Jakarta Vespa Club, Bekasi Independent Scooter, Scooter Owner Group, dan Family Independent Scooter.
Sampai di Museum Nasional, Slank langsung menjalani acara penandatanganan plakat oleh Mar’ie Muhammad (Ketua Palang Merah Indonesia), Saparinah Sadli (anggota Komnas Perempuan), Putu Wijaya (budayawan yang tak jarang membawa pesan perdamaian lewat karya-karyanya), dan pianis Henrietta Noveria Embut, keponakan Mochtar Embut, pencipta lagu Mars Pemilu yang disajikan oleh Slank dalam album Road to Peace dengan aransemen baru. Bersama Slank mereka lalu melepas burung-burung merpati putih.
Kaka menekankan bahwa Slank tak akan bosan-bosan menularkan virus perdamaian. "Kami punya banyak penggemar. Mereka, generasi muda, harus ditulari yang baik-baik," tutur Kaka kepada pers. "Indonesia masih membutuhkan gerakan-gerakan untuk mewujudkan perdamaian," sambungnya.
Kegiatan properdamaian Slank kali ini, kata Ridho, merupakan kelanjutan dari aktivitas-aktivitas mereka semacam sebelumnya. Selain itu, "Ada kaitannya dengan Pemilu 2004, kami ingin presiden kita yang terpilih nanti bisa mendamaikan Indonesia seperti di Ambon, Aceh, dan lain-lain," tambahnya. (Ati)
Klo besuk istriku aku poligami dengan banyak vespa, cemburukah ?